Headline

Visi dan Misi DTA. Al-Munfardiyyah

Written By MPI. Al-Munfardiyyah on Minggu, 24 Agustus 2014 | 06.55

Visi dan Misi DTA. Al-Munfardiyyah

VISI
 “ Menciptakan Generasi Yang Berilmu Amaliyyah, Beramal Ilmiah ”

 MISI
  • Mempersiapkan peserta didik yang berkualitas danberjiwa islami
  • Mempersiapkan peserta didik yang shaleh dan shalehah yang patuh dan hormat pada guru dan orang tua serta menghargai sesama
  • Mendidik Siswa dengan berbasis nilai-nilai keagamaan
  • Meningkatkan wawasan IMTAQ dan IPTEK kepada Siswa
  • Menciptakan Kinerja Diniyah yang Profesional, Kreatif dan Inovatif.
  • Mengupayakan peningkatan sarana dan prasarana yang lebih baik.
  • Membiasakan budaya Amanah dalam melaksanakan tugas.


  
       
       
06.55 | 0 Comments | Read More

Pentingnya Madrasah Diniyah Takmiliyah

Written By MPI. Al-Munfardiyyah on Jumat, 22 Agustus 2014 | 23.09


Pentingnya Madrasah Diniyah Takmiliyah
Diniyah Takmiliyah - ialah suatu sutu pendidikan keagamaan Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan Islam sebagai pelengkap bagi siswa pendidikan umum. Untuk tingkat dasar (diniah takmiliya awaliyah) dengan masa belajar 6 tahun.

Untuk menengah atas (diniah takmiliyah wustha) masa belajar tiga tahun, untuk menengah atas (diniyah ulya) masa belajar selama tiga tahun dengan jumlah jam belajar minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu (Kemenag Jabar, 2010: 7)

Menurut  Amin Haidar yang dijelaskan kembali oleh Umar perubahan nomenklatur dari madrasah diniyah menjadi diniyah takmiliyah berdasarkan pertimbangan bahwa kegiatan madrasah diniyah merupakan pendidikan tambahan sebagai penyempurna bagi siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) yang hanya mendapat pendidikan agama Islam dua jam pelajaran dalam satu minggu, oleh karena itu sesuai dengan artinya maka kegiatan tersebut yang tepat adalah diniyah takmiliah.

Madrasah Diniyah (MD) atau pada saat ini disebut Madrasah Diniyah Takmiliah (MDT) adalah lembaga pendidikan Islam yang dikenal sejak lama bersamaan dengan masa penyiaran Islam di Nusantara. Pengajaran dan pendidikan Islam timbul secara alamiah melalui proses akulturasi yang berjalan secara halus, perlahan sesuai kebutuhan masyarakat sekitar.

Pada masa penjajahan hampir semu desa yang penduduknya beragama Islam, terdapat Madrasah Diniah (Diniyah Takmiliah), dengan nama dan bentuk berbeda beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian, surau, rangkang, sekolah agama dan lain lain. Mata  pelajaran agama juga berbeda beda yang yang pada umumnya meliputi aqidah, ibadah, akhlak, membaca Al Qur’an dan bahasa Arab (Direktorat PD Pontern, 2007:1).

Namun walaupun demikian keberadaan MDT ini masih terkesan kurang mendapat perhatian khusus baik dari kalangan masyarakat maupun pemerintah. padahal jika melihat perkembangan spiritualitas generasi saat ini sudah semakin memprihatinkan. Oleh sebab itu sudah menjadi suatu keniscayaan kalau keberadaan madrasah takmiliyah ini mendapat perhatian lebih baik dari masyarakat maupun pemerintah.

Maka Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 3 setelah mengalami perubahan keempat kalinya yang berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang.

Mencerdaskan kehidupan bangsa memang adalah asumsi mendasar diadakannya sebuah proses pendidikan, sebab kehidupan bangsa yang cerdaslah yang akan mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang jaya dalam tapak waktu yang berkesinambungan.

Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa kecerdasan yang paling tepat dan yang paling dibutuhkan dalam asumsi di atas adalah kecerdasan yang mengarah pada kecerdasan spiritualitas,  sebab kecerdasan spiritual inilah yang sangat menentukan baik dan tidaknya suatu bangsa. Karena apabila kecerdasan spiritualitas ini tidak dimiliki oleh penerus bangsa ini sudah dapat dipastikan kelangsungan bangsa ini akan cenderung mengalami kerancuan yang berkesinambungan.

Nah, untuk menunjang proses peningkatan kecerdasan spiritualitas tersebut tidak cukup kalau hanya mengacu pada pendidikan formal seperti SD, SMP, MTs, dan sebagainya. Dimana di dalmnya hanya terdapat sedikit waktu untuk berbagi nilai nilai spiritualitas tersebut. Jadi sudah barang tentu menjadi keniscayaan pentingnya pengembangan sistem Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebagai alternatif yang dominan untuk melengkapi pelajaran keagamaan dalam lembaga formal tersebut yang terkesan memiliki waktu sedikit dalam proses peningkatan keimanan, katakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

23.09 | 0 Comments | Read More

Jadual Shalat


Jadual Shalat
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata,tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (صلى الله عليه و سلم) adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (صلى الله عليه و سلم), keluarganya, para Sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai hari Kiamat.
Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]


Semoga jadual shalat ini dapat bermanfaat, amiin.....
22.38 | 0 Comments | Read More

Download Kitab Hadist, Tafsir dan Fiqih

Written By MPI. Al-Munfardiyyah on Selasa, 19 Agustus 2014 | 21.46

21.46 | 0 Comments | Read More

Download Kitab Hadist

Download Kitab Hadist
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah, Swt. Dibawah ini kami sajikan kepada sahabat-sahabat DTA. Al-Munfardiyyah, Link download beberapa Kitab Hadis, Semoga dengan adanya link download kitab hadist ini dapat mempertebal keimanan serta menambah pengetahuan kita terhadap agama tercinta kita, amiin yaa rabbal alamiin.


1.   Bukhari -Download-
2.   Muslim -Download-
3.   Musnad Imam Asy-Syafi'i -Download-
4.   Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal -Download-
5.   Dalail Nubuwah (Imam Baihaqi) -Download
6.   Bulughul Maram (Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolani) -Download
7.   Jami'ul 'Ulum (Ibnu Rejab Al-Hanbali) -Download
8.   Al-Arba'un An-Nabawiyyah (Imam An-Nawawi) -Download
9.   Al-Adab Al-Mufrad (Imam Bukhari) -Download
10. Syarah Ma'ani Al-Atsar (Abu Ja'far Al-Tohawi) -Download
11. Sunan Ad-Darami (Al-Imam Ad-Darami) -Download
12. Mushnaf Abi Syaibah (Al-Imam Abi Syaibah) -Download
13. Sunan Daruquthni (Al-Imam Ad-Daruquthni) -Download
14. Muwatho' Al-Imam Malik (Al-Imam Malik) -Download
15. Mu'jam Ath-Thobrani As-Soghir (Ath-Thobrani) -Download
16. Mu'jam Ath-Thobrani Al-Kabir (Ath-Thobrani) -Download
17. Mu'jam Ath-Thobrani (Ath-Thobrani) -Download
18. Al-Mustadrak 'ala As-Sohihin (Al-Hakim) -Download
19. Musnad Abi Daud (Abi Daud) -Download
20. Musnad Ishaq ibn Rahuyah -Download
21. Musnad Al-Hamidi ('Abdullah ibn Az-Zabir Al-Hamidi) -Download
22. Musnad Abu Ya'la (Abu Ya'la) -Download
23. Sohin Ibn Khuzaimah (Imam Ibn Khuzaimah) -Download
24. Sohih Ibnu Hibban (Ibnu Hibban) -Download
25. Fadhail As-Sohabah -Download
26. Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra -Download
27. Al-Ahadits (Ath-Thobrani) -Download
28. Ar-Risalah Al-Mustatorafah (Al-Imam Muhammad ibn Ja'far Al-Kitani -Download
29. Musykal Al-Atsar (Abu Ja'far Ath-Thahawi) -Download
30. Musnad As-Siraj (Muhammad ibn Ishaq As-Siraj) -Download
31. Download Sunan Nasa’i
32. Download Sunan Tirmidzy
33. Download Sunan Daruquthny
34. Download Musnad Ahmad
35. Download Musonaf Abdur Rozaq
36. Download Sunan Ibnu Majah

Download Kitab Syarah Hadits

1. Fathul Bari (Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolani) :-Download
2. Syarah Sohih Muslim (Imam An-Nawawi) :-Download
3. Syarah Sunan Nasa'i (Imam As-Sayuthi) :-Download
4. Syarah Muwatho' Imam Malik (Imam As-Sayuthi) :-Download
5. Al-Isra' wal Mi'raj (Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolani) :-Download
21.35 | 0 Comments | Read More

Administrasi Kelas Madrasah


Administrasi Kelas Madrasah

DTA. Al-Munfardiyyah - Admnistrasi kelas pada jenjang sekolah dasar sangat banyak dan lengkap, saking banyaknya para Ustad kadang mengerjakan kadang tidak, jika tidak di kerjakan dalam waktu yang lama maka administrasi tersebut akan numpuk dan ketika melihat pekerjaan yang numpuk, guru akan malas. Tetapi setelah ditanyakan oleh kepala sekolah tentang administrasinya, maka guru tersebut akan bilang belum selesai. Di tulisan ini terdapat beberapa contoh nama dan format administrasi kelas pada jenjang DTA dan anda bisa klik tulisan-tulisan dibawah ini untuk mendownloadnya:
21.12 | 0 Comments | Read More

Hati, Niat dan Istiqomah

Hati, Niat dan Istiqomah

Risalah DTA. Al-Munfardiyyah - Dalam pertanyaan ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita cermati,..
Yang pertama 
Hubungan antara hati dan niat.. Secara singkat, niat adalah salah satu bentuk keinginan yang datangya dari hati, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh pikiran seseorang, yang juga dipengaruhi oleh ilmu seseorang..

Ilustrasinya...
Seorang ibu di datangi oleh seorang sales yang menawarkan kompor.. Pada tahapan yang pertama, Ibu tersebut belum tertarik atau berniat untuk membeli kompor tersebut. Tetapi setelah sales tersebut menjelaskan kegunaan kompor tersebut dengan harga yang murah...Maka, pada tahapan yang kedua, Ibu tersebut mulai sedikit tertarik untuk membeli kompor tersebut, tetapi masih ragu-ragu...Dan pada tahapan yang ketiga, Ibu tersebut mulai bertanya-tanya tentang kompor tersebut, berapa harganya, bagaimana aftersalesnya, bagaimana perawatannya, dan segudang pertanyaan lainnya..Setelah informasi yang diperlukan di dapatkan oleh Ibu tersebut, mulailah timbul niat untuk membeli kompor tersebut..Sampai pada akhirnya, Ibu tersebut membeli kompor tersebut dan memanfaatkannya dalam kegiatan memasakan sehari-hari...

Ilustrasi di atas bisa kita gunakan juga untuk pendekatan dalam memahami hubungan antara informasi / ilmu yang mempengaruhi hati dan melahirkan niat sampai terbentuklah satu perbuatan (amal).

Melalui pendekatan dari ilustrasi di atas, dalam konteks ibadah, seseorang sebaiknya harus mengetahui (memiliki informasi / ilmu) yang cukup agar tergerak hatinya dan melahirkan niat untuk melakukan amal kebaikan. Jika ilmu yang ia miliki kurang, maka ibadah dapat dipastikan akan menjadi satu beban yang memberatkan dirinya. Tetapi, jika ilmu yang ia miliki cukup, maka ibadah merupakan satu kebutuhan bagi dirinya.

Hal ini sebagaimana dinyatakan melalui hadits Rasulullah ; “ Sesungguhnya amal (perbuatan) itu bergantung dari niatnya....”. Yang juga semakna dengan ungkapan ulama bahwa ‘amal (perbuatan) tanpa ilmu sesat, dan ilmu tanpa amal lumpuh”. Jadi bisa kita simpulkan, bahwa , ilmu sangat mempengaruhi hati, membentuk niat, dan mempengaruhi amal (perbuatan) seseorang dalam segala aspek kehidupannya.
Ibadah sesungguhnya merupakan satu kebutuhan bagi manusia, Al Quran menyatakan hal ini di banyak sekali ayat ayat-nya. Salah satunya bentuk ibadah adalah shalat. Hanya melalui informasi yang cukup (ilmu) yang dapat merubah paradigma kita tentang shalat. Dari shalat merupakan satu kewajiban, menjadi shalat merupakan satu kebutuhan. Satu kebutuhan sudah pasti wajib di penuhi, tetapi satu kewajiban belum tentu kita membutuhkannya. Terkadang, jika kita tidak merasa membutuhkan, maka kewajiban untuk memenuhinya pun boleh jadi sering di lalaikan. Maka, untuk tetap menjaga hati dan niat dalam beribadah, yang perlu kita lakukan adalah menambah informasi (ilmu) yang cukup agar dapat merubah paradigma kita tentang ibadah itu sendiri.

Hal yang kedua adalah istiqomah atau kontinuitas dalam beribadah...
Mari kita kembali pada ilustrasi seorang ibu dan sales yang menawarkan kompor.
Ternyata, setelah timbul niat untuk membeli kompor tersebut, harganya cukup mahal, dan sang ibu tersebut hanya bisa membeli kompor tersebut dengan pembayaran angsuran. Katakanlah, harga kompor tersebut Rp. 500.000, dan si ibu harus membayar angsuran sebesar Rp. 50.000 setiap bulannya.
Karena niat yang teguh untuk mendapatkan kompor tersebut, maka Ibu tadi memberikan komitmennya untuk membeli kompor tersebut dengan pembayaran angsuran sebesar Rp. 50.000 setiap bulannya, selama 10 bulan.

Ilustrasi ini bisa kita gunakan sebagi pendekatan untuk memahami istiqomah dalam konteks ibadah. Salah satu makna dari Istiqomah adalah melakukan kebaikan secara terus-menerus (berkesinambungan / konsisten). Kebaikan yang dilakukan oleh manusia terus menerus disebabkan karena manusia juga membutuhkan kebaikan terus menerus selama hidupnya di dunia. Dan yang lebih besar lagi adalah mendapatkan kebaikan yang ia lakukan di dunia secara terus menerus itu untuk kehidupan di akhirat.
Surga adalah tempat yang di idamkan oleh setiap manusia, tempat kembali yang penuh dengan kenikmatan, keindahan yang belum pernah manusia rasakan. Ini adalah satu pencapaian besar yang perlu upaya dan pengorbanan. Dan untuk melakukan hal itu, tiada kata lain selain istiqomah.
Jika disimpulkan, maka untuk menjaga hati dan niat dalam istiqomah dalam beribadah adalah ;
  1. Perbanyaklah ilmu melalui majelis ta’lim, buku-buku, dll. Karena ilmu akan membentuk keyakinan, dan keyakinan akan mendorong amal. Niat termasuk dalam amal yang berasal dari hati. Dan pada akhirnya, hanya dengan ilmu, ibadah merupakan satu kebutuhan, dan bukan merupakan kewajiban yang membebani diri kita.
  2. Dalam konteks perjalanan manusia, surga adalah tempat kembali bagi mereka yang mendapatkan ridho Allah. Dan ini merupakan satu hal yang besar, yang tidak bisa kita dapatkan kecuali dengan istiqomah, mendapatkan kebaikan terus menerus adalah satu hal yang kita inginkan, dengan demikian, lakukanlah kebaikan secara terus menerus.
Segala kebaikan datangnya dari Allah, segala kekhilafan datangnya dari penulis, mohon di maafkan. Wallahu ‘alam.
20.59 | 0 Comments | Read More

Silaturahmi Dapat Memperpanjang Usia.?

Silaturahmi Dapat Memperpanjang Usia.?
Risalah DTA. Al-Munfardiyyah - Sering kali kita dengar hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur seseorang. Benarkah makna hadits tersebut? Artinya, apakah dengan silaturahmi, usia kita bisa lebih panjang dari yang telah Allah takdirkan? Mengenai sebuah hadits memang disebutkan bahwa akan diperpanjang umurnya bila melakukan silaturahmi, seperti dalam hadits shahih berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Para ulama berselisih pendapat mengenai pengertian ithaalatul ‘umr (memperpanjang umur):
Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ithaalah ini menurut hakikatnya, yaitu dengan ditambahkan beberapa tahun dan beberapa hari.

Di antara mereka ada yang mengatakan, dan ini yang rajih, bahwa yang dimaksud adalah keberkahan umurnya, diberi taufiq untuk melakukan ketaatan, waktunya sarat dengan hal-hal yang bermanfaat baginya diakhirat, dan waktunya terjaga dari kesia-siaan dalam perkara yang tidak berguna.
Imam Ibnu Taimiyah رحمه اللة menambahkan bahwa keberkahan umur ialah dapat melakukan amal-amal kebaikan dalam waktu yang pendek, padahal yang seperti itu tidak dapat dilakukan oleh orang selainnya dalam waktu yang sama.

Penulis Ruhul Ma’ani رحمه اللة mengatakan, “Yang dimaksud oleh Nabi صلي الله عليه وسلم ialah bahwa ketaatan-ketaatan itu dapat menambah umur seseorang, karena amal-amal ketaatan tersebut menjadi sebab bagi keharuman nama pelakunya. Pada umumnya amal-amal seperti itu berkaitan dengan shadaqah dan silaturahmi, karena keduanya dapat mendatangkan pujian manusia. Ada yang mengatakan: Karena itulah, Nabi صلي الله عليه وسلم mengatakan bahwa silaturami itu dapat ‘menambah umur’. Beliau tidak mengatakan bahwa silaturahmi itu akan menambah ‘waktu ajal seseorang.’”
Firman Allah سبحانه وتعالى :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf : 34)
Allah سبحانه وتعالى berfirman,
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)
Ibnu ‘Umar رضي الله عنه berkata,
مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ
Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” [HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan]
Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat.
Ibnu Hajar رحمه اللة dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat.

20.50 | 0 Comments | Read More

Jauhi Ghibah


Jauhi Ghibah
DTA. Al-Munfardiyyah - Telah menyebar dikalangan kaum muslimin penyakit akut yang telah diperingatkan oleh Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya supaya dijauhi. Sesungguhnya dia adalah pemangkas amal yang merobohkan, menjauhkan kawan, pemicu perselisihan dan permusuhan, sebagaimana juga telah digabungkan oleh para ulama masuk dalam kategori dosa besar, namun, sayang sangat sedikit muslim yang bisa selamat darinya, kecuali orang yang mendapat rahmat dari Allah azza wa jalla, penyakit itu adalah ghibah (mengunjing orang).
Dan peringatan tersebut ialah firman Allah تعالى didalam firman -Nya:

وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
[Qs. al-Hujurat: 12]
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan tentang definisi ghibah secara gamblang. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau berkata: “Rasulallah صلي الله عليه وسلم pernah bertanya pada para sahabatnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ. قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ. قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » [أخرجه مسلم]
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul -Nya yang lebih mengetahui”. Lantas beliau menjelaskan: “(Ghibah) itu ialah engkau menyebut (keburukan) saudaramu yang ia tidak suka”. Ada yang bertanya: “Bagaimana sekiranya, jika yang ada pada saudaraku itu memang benar seperti yang ku katakan? Beliau menambahkan: “Jika benar ada padanya apa yang engkau katakan itulah yang namanya ghibah. Dan jika sekiranya apa yang engkau katakan tidak ada pada saudaramu, itu namanya dusta.”
[HR. Muslim no: 2589]
Imam Tahanawi menjelaskan: “Ghibah ialah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan perkara yang ia benci kalau seandainya berita tersebut sampai padanya, baik engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada tubuh atau pada lisannya. Demikian pula tatkala engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada postur tubuh, kelakuanya, ucapan, agama, harta, anak, pakaian, rumah atau kendaraanya. Jadi, ghibah itu tidak khusus hanya terpaku pada ucapan saja, namun, ghibah juga bisa berlaku pada perbuatan, yaitu dengan menirukan gerakan tubuhnya atau menggunakan isyarat maupun dengan tulisan”.
Dalam firman Allah تعالى yang dahulu disebutkan bahwa orang yang berghibah ria itu diserupakan oleh Allah سبحانه وتعالى seperti halnya orang yang sedang memakan daging bangkai saudaranya, Allah تعالى menyebutkan:

 وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
[Qs. al-Hujurat: 12]
Maksudnya sebagaimana kalian juga membenci perbuatan diluar kebiasaan manusia ini, tentunya kalian juga tidak suka kalau sampai melakukannya. Maka, perlu diketahui bahwa balasan orang yang mengunjing itu lebih keras dari pada perumpaan ini. Sehingga bagi orang yang berakal tentunya ayat ini sebagai bentuk peringatan dan cambuk untuk segera berpaling dari kebiasaan buruk tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه, beliau mengkisahkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْتَفَعَتْ رِيحُ جِيفَةٍ مُنْتِنَةٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ. الرِّيحُ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ » [أخرجه احمد]
“Kami pernah bersama Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, lalu datang angin dengan membawa bau busuk disekeliling kami. Maka, beliau bertanya kepada kami pada saat itu: “Tahukah kalian dari mana datangnya angin ini? Angin (yang membawa bau busuk) ini datang dari orang-orang yang sedang berghibah ria terhadap orang-orang yang beriman.”
[HR. Ahmad 23/97 no: 14784]
Bahkan, disebutkan balasan bagi orang yang senang ghibah ialah akan diadzab didalam kuburnya sebelum siksaan yang akan diperoleh dihari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam haditsnya Abu Bakrah رضي الله عنه, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ. فَقَالَ: مَنْ يَأْتِينِي بِجَرِيدَةِ نَخْلٍ. قَال:َ فَاسْتَبَقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ آخَرُ فَجِئْنَا بِعَسِيبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَجَعَلَ عَلَى هَذَا وَاحِدَةً وَعَلَى هَذَا وَاحِدَةً ثُمَّ قَالَ: أَمَا إِنَّهُ سَيُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا كَانَ فِيهِمَا مِنْ بُلُولَتِهِمَا شَيْءٌ. ثُمَّ قَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ فِي الْغِيبَةِ وَالْبَوْلِ »
“Aku pernah berjalan bersama Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, lantas kami melewati dua kubur. Beliau lalu meminta kepada kami: “Siapa yang mau mengambilkan untukku pelepah kurma? Abu Bakrah mengatakan: “Maka aku bersegera untuk mendapatkannya bersama sahabat yang lain”.  Selanjutnya kami bawakan pelepah kurma, kemudia beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau menjadikan yang sebelah pada kubur yang satu dan yang sebelah untuk satunya lagi. Kemudian beliau bersabda: “Adapun sungguh akan diringankan (siksa) keduanya selagi pelepah kurma ini sebelum kering. Sesungguhnya keduanya sedang disiksa karena (ketika didunia) senang ghibah dan (tidak bersuci) ketika kencing.”
[HR. Ahmad 23/53 no: 20411]
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ 
“Adapun salah satunya (dirinya disiksa) karena senang mengadu domba. Sedang yang satunya lagi karena tidak menutup aurat tatkala kencing.”
[HR. Bukhari no: 1378 & Muslim no: 292]
Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan: “Dan ghibah itu bisa dijumpai pada sebagian kasus mengadu domba (namimah). Yaitu dengan menyebut saudaranya manakala tidak hadir dihadapanya dengan perkara yang menjelekan dirinya, supaya timbul kerusakan yang ia inginkan. Maka hal ini, mungkin sekali terjadi sebagaimana kisah penghuni kubur yang disiksa dalam kuburnya.

20.44 | 0 Comments | Read More

Bid'ah Secara Etimologis dan Terminologis

Bid'ah Secara Etimologis dan Terminologis

DTA. Al-Munfardiyyah - Salah satu isu besar yang mengancam persatuan umat Islam adalah isu bid'ah. Akhir-akhir ini, kata itu makin sering kita dengar, makin sering kita ucapkan dan makin sering pula kita gunakan untuk memberi label kepada saudara-saudara kita seiman. Bukan labelnya yang dimasalahkan, tapi implikasi dari label tersebut yang patut kita cermati, yaitu anggapan sebagian kita bahwa mereka yang melakukan bid'ah adalah aliran sesat. Karena itu aliran sesat, maka harus dicari jalan untuk memberantasnya atau bahkan menyingkirkannya. Kita merasa sedih sekarang ini, makin banyak umat Islam yang menganggap saudaranya sesat karena isu bid'ah dan sebaliknya kita makin prihatin sering mendengar umat Islam yang mengeluh atau menyatakan sakit hati dan bahkan marah-marah karena dirinya dianggap sesat oleh saudaranya seiman. Yang paling mudah kita baca dari kasus tersebut adalah adanya trend makin maraknya umat Islam saling bermusuhan dan saling mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid'ah. Mari kita renungkan, apakah kondisi seperti itu harus terjadi terus menerus di kalangan umat Islam? Di beberapa negara Muslim, seperti di Pakistan, isu itu telah menyulut perang saudara berdarah antar umat Islam hingga saat ini. Sudah tak terhitung nyawa yang melayang karena pertikian seperti itu.

Mari kita simak sejenak fatwa Syeh Azhar Atiyah Muhammad Saqr yang dikeluarkan pada tahun 1997. Bahwa  sebenarnya isu bid'ah yang berkembang di masyarakat Muslim saat ini disebabkan oleh perbedaan memaknai bi'dah apakah secara etimologis (bahasa) atau terminologis (istilah). Syeh Atiyah menjelaskan lebih jauh:

Dalam kitab "Al-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Athar" karangan Ibnu Atsir dalam pembahasan "ba da 'a" (asal derivatif kata bid'ah) dan dalam pembahasan hadist Umar r.a. masalah menghidupkan malam Ramadhan  ": نعمت البدعة هذه" Inilah sebaik-baik bid'ah", dikatakan bahwa bid'ah terbagi menjadi dua, ada 1) bid'ah huda (bid'ah benar sesuai petunjuk) dan ada 2) bid'ah sesat. Bid'ah yang betentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itulah bid'ah yang dilarang dan sesat. Dan bid'ah yang masuk dalam generalitas perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itu termasuk bid'ah yang terpuji dan sesuai petunjuk agama. Apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. tapi sesuai dengan perintah agama, termasuk pekerjaan yang terpuji secara agama seperti bentuk-bentuk santunan sosial yang baru. Ini juga bid'ah namun masuk dalam ketentuan hadist Nabi s.a.w.  diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah oleh Imam Muslim:

‏من سن في الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شيء

"Barang siapa merintis dalam Islam pekerjaaan yang baik kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan sama dengan orang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa merintis dalam Islam pekerjaan yang tercela, kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan dosa orang yang melakukannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun" (H.R. Muslim).


Stateman Umar bin Khattab r.a. "Inilah bid'ah terbaik" masuk kategori bid'ah yang terpuji. Umar melihat bahwa sholat tarawih di masjid merupakan bid'ah yang baik, karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukannya, tapi Rasulullah s.a.w. melakukan sholat berjamaah di malam hari Ramadhan beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak melakukannya secara kontinyu, apalagi memerintahkan umat islam untuk berjamaah di masjid seperti sekarang ini. Demikian juga pada zaman Abu Bakar r.a. sholat Tarawih belum dilaksanakan secara berjamaah. Umar r.a. lah yang memulai menganjurkan umat Islam sholat tarawih berjamaah di masjid.

Para ulama melihat bahwa melestarikan tindakan Umar tesebut, termasuk sunnah karena Rasulullah s.a.w. pernah bersabda "Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaurrashiidn setelahku" (H.R. Ibnu Majah dll.) Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: "Ikutilah dua orang setelahku, yaitu ABu Bakar dan Umar". (H.R. Tirmidzi dll).

Dengan pengertian seperti itu, maka menafsirkan hadist Rasulullah s.a.w. "كل محدثة بدعة" yang artinya "setiap baru diciptakan dalam agama adalah bid'ah" harus dengan ketentuan bahwa hal baru tersebut memang bertentangan dengan aturan dasar syariat dan tidak sesuai dengan ajaran hadist.

Mengkaji masalah bid'ah memerlukan pendefinisian yang berkembang dan muncul di seputar penggunaan kata bid'ah tersebut. Perbedaan definisi bisa berpengaruh pada perbedaan hukum yang diterapkan. Tanpa mendefinisikan bid'ah secara benar maka kita hanya akan terjerumus pada perbedaan hukum, perbedaan pendapat dan bahkan pertikaian. Demikian juga mendefinisikan bid'ah yang sesat dan masuk neraka, tidaklah mudah.

Dari beberapa literatur Islam yang ada, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Para ulama dalam mendefinisikan bid'ah, terdapat dua pendekatan yaitu kelompok pertama menggunakan pendekatan etimologis (bahasa) dan kelompok kedua menggunakan pendekatan terminologis (istilah).

Golongan pertama mencoba mendefinisikan bid'ah dengan mengambil akar derivatif kata bid'ah yang artinya penciptaan atau inovasi yang sebelumnya belum pernah ada. Maka semua penciptaan dan inovasi dalam agama yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah s.a.w. disebut bid'ah, tanpa membedakan antara yang baik dan buruk dan tanpa membedakan antara ibadah dan lainnya. Argumentasi untuk mengatakan demikian karena banyak sekali ditemukan penggunakan kata bid'ah untuk baik dan kadang kala juga digunakan untuk hal tercela.

Imam Syafi'i r.a. berkata: "Inovasi dalam agama ada dua. Pertama yang bertentangan dengan kitab, hadist dan ijma', inilah yang sesat. Kedua inovasi dalam agama yang baik, inilah yang tidak tercela."

Ulama yang menganut metode pendefinisan bid'ah dengan pendekatan etimologis antara lain Izzuddin bin Abdussalam, beliau membuat kategori bid'ah ada yang wajib seperti melakukan inovasi pada ilmu-ilmu bahasa Arab dan metode pengajarannya, kemudian ada yang sunnah seperti mendirikan madrasah-madrasah Islam, ada yang diharamkan seperti merubah lafadz al-Quran sehingga keluar dari bahasa Arab, ada yang makruh seperti mewarna-warni masjid dan ada yang halal seperti merekayasa makanan.

Golongan kedua mendefinisikan bid'ah adalah semua kegiatan baru di dalam agama, yang diyakini itu bagian dari agama padahal sama sekali bukan dari agama. Atau semua kegiatan agama yang diciptakan berdampingan dengan ajaran agama, dan disertai keyakinan bahwa melaksakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agama. Kegiatan tersebut emncakup bidang agama dan lainnya. Sebagian ulama dari golongan ini mengatakan bahwa bid'ah hanya berlaku di bidang ibadah. Dengan definisi seperti ini, semua bid'ah dalam agama dianggap sesat dan tidak perlu lagi dikategorikan dengan wajib, sunnah, makruh dan mubah. Golongan ini mengimplementasikan hadist "كل بدعة ضلالة"  yang artinya "setiap bid'ah adalah sesat", terhadap semua bid'ah yang ada sesuai defisi tersebut. Demikian juga statemen imam Malik: "Barang siapa melakukan inovasi dalam agama Islam dengan sebuah amalan baru dan menganggapnya itu baik, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad s.a.w. menyembunyikan risalah, karena Allah s.w.t. telah menegaskan dalam surah al-Maidah:3 yang artinya " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu", adalah dalam konteks definisi bid'ah di atas. Adapun pernyataan Umar r.a. dalam masalah sholat Tarawih bahwa "itu sebaik-baik bid'ah" adalah bid'ah dalam arti bahasa (etimologis).

Lepas dari kajian bid'ah di atas, sesungguhnya tema bid'ah merupakan tema yang cukup rumit dan panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Pelabelan ahli bid'ah terhadap kelompok Islam tertentu mulai marak dan muncul, pada saat munculnya polemik dan konflik pemikiran dalam dunia Islam. Merespon polemik pemikiran Islam tersebut, Abu Hasan Al-Asy'ari (meninggal tahun 304 H) menulis buku "Alluma' fi al-radd 'ala Ahlil Zaighi wal Bida'" (Catatan Singkat untuk menentang para pengikut aliran sesat dan bid'ah). Setelah itu muncullah kajian-kajian yang makin marak dan gencar dalam mengulas masalah bid'ah.

Imam Ghozali dalam Ihya' Ulumuddin (1/248) menegaskan:"Betapa banyak inovasi dalam agama yang baik, sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, seperti sholat Tarawih berjamaah, itu termasuk inovasi agama yang dilakukan oleh Umar r.a.. Adapun bid'ah yang sesat adalah bid'ah yang bertentangan dengan sunnah atau yang mengantarkan kepada merubah ajaran agama. Bid'ah yang tercela adalah yang terjadi pada ajaran agama, adapun urusan dunia dan kehidupan maka manusia lebih tahu urusannya, meskipun diakui betapa sulitnya membedakan antara urusan agama dan urusan dunia, karena Islam adalah sistem yang komprehensif dan menyeluruh. Ini yang menyebabkan sebagian ulama mengatakan bahwa bid'ah itu hanya terjadi dalam masalah ibadah, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bid'ah terjadi di semua sendi kehidupan.

Akhirnya juga bisa disimpulkan bahwa bid'ah terjad dalam masalah aqidah, ibadah, mu'amalah (perniagaan) dan bahkan akhlaq. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa semua tingkah laku dan pekerjaan Rasulullah s.a.w. adalah suri tauladan bagi umatnya. Apakah semua pekerjaan Rasulullah s.a.w. dan tingkah lakunya wajib diikuti 100 persen, ataukah sebagian itu sunnah untuk diikuti dan sebagian bolah tidak diikuti? Apakah meninggalkan sebagian pekerjaan yang pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. (yang bukan termasuk ibadah) dosa atau tidak? Contohnya seperti adzan dua kali waktu sholat Jum'at, menambah tangga mimbar sebanyak tiga tingkat, melakukan sholat dua rakaat sebelum Jum'at, membaca al-Quran dengan suara keras atau memutas kaset Qur'an sebelum sholat Jum'at, muadzin membaca sholawat dengan suara keras setelah adzan, bersalaman setelah sholat, membaca "sayyidina" pada saat tahiyat, mencukur jenggot. Sebagian ulama menganggap itu semua bid'ah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam. Demikian juga masalah peringatan maulid nabi dan peringatan Islam lainnya, seperti Nuzulul Qur'an, Isra' Mi'raj, Tahun Baru Hijriyah, sebagian ulama melihat itu bid'ah dan sebagian lainnya menganggap itu bukan bid'ah sejauh diisi dengan kegiatan-kegiatan agama yang baik.  Perbedaan para ulama di seputar masalah tersebut terkembali pada perbedaan mereka dalam mengartikan bid'ah itu sendiri, seperti dijelaskan di atas.

Yang perlu kita garis bawahi lagi, bahwa ajaran agama kita dalam merubah kemungkaran yang disepakati bahwa itu kemungkaran adalah dengan cara yang ramah dan nasehat yang baik. Tentu merubah kemungkaran yang masih dipertentangkan kemungkarannya juga harus lebih hati-hati dan bijaksana. Permasalahan yang masih menjadi khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat) di antara para ulama, tidak seharusnya disikapi dengan bermusuhan dan percekcokan, apalagi saling menyalahkan dan menganggap sesat. Mereka yang menganggap dirinya paling benar dan menganggap akidahnya yang paling selamat, dan lainnya adalah sesat dan rusak, hendaklah ia berhati-hati karena jangan-jangan dirinya telah terancam kerusakan dan telah dihinggapi oleh teologi permusuhan.

Wallahu  a'lam bissowab
Sumber : www.pesantrenvirtual.com
20.27 | 0 Comments | Read More

Kisah 25 Nabi dan Rasul Lengkap

Kisah 25 Nabi dan Rasul Lengkap

Baiklah sobat Blogger semuanya, kali ini saya mau berbagi tentang semua kisah nabi dan rasul lengkap, dimana saya mengharapkan dengan ini kita semua dapat membacanya dan dapat menjadi sebuah hikmah bagi kita semua . sobat tinggal klik link dibawah ini untuk menuju kisah lengkap 25 nabi dan rasul, nanti sobat akan dibawa ke artikel yang sesuai dengan pilihan sobat .

Sekalipun Sobat blogger mungkin sudah banyak mengetahui kisahnya, namun tidak ada salahnya jika sobat semua dapat membacanya kembali dengan tujuan agar meningkatkan kecintaan kita terhadap hamba2 Allah yang mulia, amiin yaa Rabbb.............
20.19 | 0 Comments | Read More